Pembaharuan

Bacaan: Yesaya 11:1
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Keturunan Raja Daud seperti pohon yang sudah ditebang. Tetapi sebagaimana dari tunggul tumbuh tunas baru, demikian pula dari keturunan Daud akan muncul seorang raja.

Memperbaiki sesuatu yang sudah rusak bukanlah hal yang mudah. Hal itu mem­butuhkan suatu proses, waktu, tenaga, dan menyita per­hatian. Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ada kalanya sesuatu yang salah atau keliru dianggap sebagai kebenaran.
Karena itu, perlu penyadaran dan pembaruan oleh pribadi yang khusus atau istimewa.

Seperti dalam Kitab Yesaya, ibarat pedang bermata dua, di satu sisi berupa ancaman di sisi lain adalah janji pemulihan dan penghiburan yang akan diberikan Tuhan khususnya kepada Yehuda. Yehuda
seharusnya dihukum tetapi Tuhan memakai Yesaya untuk mengingatkan Yehuda. Demikian juga Yesaya bertindak menyiapkan proses pemilihan raja Israel yaitu, Daud, tunas tunggul Isai.

Tuhan menghendaki pola kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri tetapi pemimpin yang tanpa pamrih. Nabi Yesaya menggambarkan kepemimpinan yang demikian dalam kehidupan yang serba rukun dan damai. Dalam hal ini pun digambarkan lebih lanjut oleh Nabi Yesaya sebagai kehidupan yang tanpa kebusukan dan kejahatan. Sesungguhnya tunas tunggul Isai juga mengacu kepada keturunan Daud yaitu menunjuk pada pemerintahan Yesus Kristus. Dia yang memimpin dalam pola pemerintahan yang penuh keadilan dan perdamaian. Hal inilah yang ingin diajarkan Nabi Yesaya kepada kita semua agar kehidupan kita setelah menerima pola pemerintahan yang dari Yesus Kristus ini benar-benar mengalami
pembaruan, yang membawa damai.

Mari kita membenahi dan memperbarui semua aspek hidup kita. Kita dipanggil untuk menjadi duta-duta damai. Mari kita perbarui damai kita dengan diri sendiri, sesama, dan dengan semua ciptaan-Nya. Pembaruan hidup kita akan menjadi
pendamai bagi sesama. (Dewani)

*Dikutip dari renungan Andi offset Maret 2017

 

Scroll to top
Share
WhatsApp
+1
Email
Tweet