Pemberontakan dan Akibatnya

Bacaan Yesaya 1:10-20
Perjanjian Lama Bahasa Indoensia Masa Kini (PL-BIMK)

Allah Menegur umat-Nya
10 Yerusalem, para pemimpin dan bangsamu sudah menjadi seperti orang Sodom dan Gomora. Dengarlah apa yang dikatakan Tuhan kepadamu; perhatikanlah apa yang diajarkan Allah kita.
11 Tuhan berkata, “Sangkamu Aku suka akan semua kurban yang terus-menerus kaupersembahkan kepada-Ku? Aku bosan dengan domba-domba kurban bakaranmu dan lemak anak sapimu. Darah sapi jantan, domba dan kambing tidak Kusukai.
12 Siapa menyuruh kamu membawa segala persembahan itu pada waktu kamu datang beribadat kepada-Ku? Siapa menyuruh kamu berkeliaran di Rumah Suci-Ku?
13-14 Percuma saja membawa persembahanmu itu. Aku muak dengan baunya. Aku benci dan tak tahan melihat kamu merayakan Bulan Baru, hari-hari Sabat dan hari-hari raya serta pertemuan-pertemuan keagamaan. Semua itu kamu nodai dengan dosa-dosamu dan merupakan beban bagi-Ku; Aku sudah lelah menanggungnya.
15 Apabila kamu mengangkat tanganmu untuk berdoa, Aku tak mau memperhatikan. Tak peduli berapa banyak doamu, Aku tak mau mendengarkannya, sebab dengan tanganmu itu kamu telah banyak membunuh.
16 Basuhlah dirimu sampai bersih. Hentikan semua kejahatan yang kamu lakukan itu. Ya, jangan lagi berbuat jahat,
17 belajarlah berbuat baik. Tegakkanlah keadilan dan berantaslah penindasan; berilah kepada yatim piatu hak mereka dan belalah perkara para janda.”
18 Tuhan berkata, “Mari kita bereskan perkara ini. Meskipun kamu merah lembayung karena dosa-dosamu, kamu akan Kubasuh menjadi putih bersih seperti kapas. Meskipun dosa-dosamu banyak dan berat, kamu akan Kuampuni sepenuhnya.
19 Kalau kamu mau taat kepada-Ku, kamu akan menikmati semua yang baik yang dihasilkan negerimu.
20 Tetapi kalau kamu melawan Aku, kamu akan mati dalam perang. Aku, Tuhan, telah berbicara.”

Indonesia dibanjiri oleh film dan drama Korea. Penggemarnya pun tak hanya kaum muda, orang tua pun tak sedikit yang menyukai tayangan dari negeri ginseng ini. “Ceritanya beragam dan tidak berlebihan apalagi drama kolosalnya yang bertajuk sejarah”, menurut seorang teman sekaligus penggemar drama Korea. Ia juga menambahkan mengenai alasannya itu bahwa drama Korea itu memiliki ciri khas, seperti pemberontakan yang selalu disuguhkan dalam drama kolosal.

Pemberontakan sama dengan ketidaktaatan, dan pemberontakan menjadi ciri khas manusia sejak kejatuhan manusia pertama. Tak heran bila dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan anak memberontak kepada orangtua, bawahan memberontak terhadap atasan, peserta didik (siswa) memberontak kepada guru dan aturan sekolah. Bahkan Alkitab juga mencatat orang-orang yang memberontak kepada Tuhan. Sebut Raja Saul. Selama Saul menjadi raja atas Israel, Saul hidup dalam ketidaktaatan kepada Tuhan, dan puncak ketidaktaatannya dapat dilihat dalam 1 Samuel 13. Akibatnya, kehidupan Saul berakhir dengan kehancuran.

Dari kehidupan Saul, kita belajar beberapa hal penting: (1) Pemberontakan atau ketidaktaatan terha­dap Tuhan pasti kehancuran hidup terjadi. (2) Hal pertama yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan ketika berdosa/bersalah adalah pertobatan, bukan kurban persembahan. (3) Tuhan jijik dengan kurban persembahan yang di tunjukkan kepada-Nya tanpa pertobatan.

Seberat apapun kehidupan kita, jangan pernah memberontak kepada-Nya! Pemberontakan bukan karakter murid Kristus. Prinsip kehidupan murid Kristus adalah taat. Maka, ketaatan bukan untuk dihindari! Tuhan akan memberikan imbalan apabila kita taat (ay. 19).

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu