Percayalah, Tuhan Pasti mencukupkan

 

Bacaan 1 Raja-raja 17:1-7
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK) 

Elia dan musim kering yang hebat

Adalah seorang nabi bernama Elia. Ia berasal dari Tisbe, suatu kota di wilayah Gilead. Pada suatu hari ia datang kepada Raja Ahab dan berkata, “Demi Tuhan yang hidup, Allah yang disembah orang Israel dan yang saya layani, saya memberitahukan kepada Tuan bahwa selama dua atau tiga tahun yang berikut ini tidak akan ada embun atau hujan sedikit pun, kecuali kalau saya mengatakannya.”
Setelah itu Tuhan berkata kepada Elia,
3“Tinggalkanlah tempat ini, pergilah ke timur ke seberang Sungai Yordan dan bersembunyilah di sana dekat anak Sungai Kerit.
Engkau dapat minum dari anak sungai itu, dan burung gagak akan Kusuruh membawa makanan untukmu.”
Elia menuruti perintah Tuhan itu, dan pergi ke anak sungai Kerit lalu tinggal di situ.
Ia minum dari anak sungai itu, dan makan roti dan daging yang dibawa oleh burung gagak setiap pagi dan setiap sore. 7Setelah beberapa waktu lamanya, anak sungai itu pun kering karena tidak ada hujan.

Seorang saya yang mengelola panti Asuhan anak di Bali bercerita pasa suatu kali tidak ada lagi bahan makanan yang tersisa untuk mereka esok hari. Lalu istrinya yang biasa memasak di dapur bertanya, “Besok masak apa?” Dengan iman relasi saya menjawab, “Tuhan pasti mencukupkan, tinggal menunggu”. Benar, tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke halaman parkir. Mobil tersebut membawa beras dan paketan sembako untuk para penghuni panti asuhan. Puji Tuhan, keesokannya mereka bisa memasak menu sederhana dan berkecukupan.

Bagaimana Tuhan berkarya menyatakan pemelihara­an-Nya memang di luar nalar manusia. Demikian pula pemeliharaan Tuhan atas Elia, hamba-Nya. Melalui air sungai dan burung-burung gagak yang dipakai-Nya un­tuk membawa daging dan roti kepada Elia, begitulah cara Tuhan memelihara utusan-Nya. Ini terjadi karena kesetiaan Elia pada perintah Tuhan. Kesetiaannya itu mem­buatnya benar-benar dikenyangkan akan kasih Tuhan, juga dikenyangkan dan terpelihara secara fisik. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan Israel. Alkitab mencatat, “Tidak ada embun maupun hujan pada tahun-tahun itu.” Keadaan itu tidak hanya menandakan kekeringan secara jasmani, tetapi sekaligus sebagai tanda bahwa Tuhan sedang tidak berkenan kepada mereka.

Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, Dia akan selalu memelihara dengan cara-Nya yang ajaib. Percayalah, asal kita sudah melakukan bagian kita, yaknibekerja , berdoa, setia kepada-Nya dan firman-Nya, serta tetap menjaga relasi dengan Allah, maka Ia pasti akan memelihara hidup kita. Kita takkan pernah dibiarkan-Nya kekurangan dalam segala aspek kehidupan. Jangankan kebutuhan kita, kerinduan kita pun pasti akan Tuhan berikan. Untuk itu, mari berserah kepada Tuhan!

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset September 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu