Polemik

Bacaan Yohanes 9:8-41
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Yesus membuat seorang yang buta sejak lahir bisa melihat

1 Pada waktu kami murid-murid berjalan bersama Yesus, kami semua melihat seseorang yang buta sejak lahir.
2 Lalu kami bertanya, “Guru, kira-kira siapa yang berbuat dosa sampai dia dilahirkan buta? Apakah karena dosanya sendiri waktu dia masih berada di dalam kandungan ibunya, atau karena dosa ibu atau bapaknya?”
3 Lalu Yesus menjawab, “Dia dilahirkan buta bukan karena dosanya, dan juga bukan karena dosa ibu atau bapaknya. Tetapi hal itu terjadi supaya melalui dirinya kuasa Allah bisa dinyatakan kepada banyak orang.
4-5 Selama Aku masih berada di dunia ini, Aku adalah terang dunia. Jadi sekarang selama hari masih siang, kita harus melakukan berbagai tugas yang diberikan oleh Bapa yang sudah mengutus Aku. Karena malam segera akan tiba dan siapa pun tidak ada yang bisa melakukan apa-apa lagi.”
6 Sesudah Yesus berkata begitu, Dia membuang ludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah sampai menjadi lumpur, kemudian Dia oleskan pada kelopak mata orang buta itu.
7 Lalu Dia berkata, “Pergilah ke kolam Siloam dan cucilah matamu di sana.” (Dalam bahasa Ibrani, ‘Siloam’ berarti ‘Diutus’.) Lalu orang itu pergi mencuci matanya ke kolam itu. Ketika dia kembali, dia sudah bisa melihat.
8 Sesudah dia kembali, para tetangganya dan orang-orang yang pernah melihat dia mengemis sebelumnya berkata satu sama lain, “Bukankah dia ini orang buta yang biasa duduk minta-minta uang?!”
9 Ada yang menjawab, “Benar, memang inilah dia.” Tetapi ada juga yang berkata, “Bukan! Dia hanya mirip dengan orang buta itu.” Lalu dia pun berkata, “Benar. Sayalah si buta yang dulu itu!”
10 Karena itu mereka bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya kamu bisa melihat?”
11 Dia menjawab, “Orang yang bernama Yesus itu mencampur ludahnya dengan tanah sampai menjadi lumpur, lalu dia oleskan pada kelopak mata saya. Lalu dia menyuruh saya pergi mencuci mata saya di kolam Siloam. Kemudian saya pergi. Sesudah saya mencuci mata saya, saya bisa melihat.”
12 Lalu mereka bertanya lagi kepadanya, “Di mana orang itu?”Dan dia menjawab, “Saya tidak tahu.”

Kelompok Farisi memeriksa apakah benar mantan orang buta itu buta sejak lahir

13 Lalu orang-orang itu membawa mantan orang buta itu kepada anggota-anggota kelompok Farisi,
14 karena hari ketika Yesus membuat lumpur dan membuat si buta itu bisa melihat adalah Hari Sabat.
15 Jadi orang-orang Farisi itu juga bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya kamu bisa melihat?”
Lalu orang itu menjawab, “Yesus mengoleskan lumpur pada kelopak mata saya, lalu saya pergi mencuci mata saya, dan sekarang saya bisa melihat.”
16 Kemudian beberapa orang Farisi itu berkata, “Tidak mungkin Yesus diutus Allah, karena dia tidak taat kepada aturan Hukum Taurat tentang Hari Sabat.” Tetapi beberapa anggota lain berkata, “Orang berdosa tidak mungkin bisa melakukan keajaiban seperti ini!” Maka terjadilah beda pendapat yang hebat di antara mereka.
17 Lalu mereka bertanya lagi kepada orang itu, “Kamulah si buta yang sudah dibuatnya bisa melihat. Jadi bagaimana pendapatmu tentang orang itu?” Mantan orang buta itu menjawab, “Dia adalah nabi.”
18 Tetapi mereka tetap tidak percaya bahwa dia memang buta sebelumnya dan sekarang sudah bisa melihat. Oleh karena itu, mereka memanggil ibu dan bapaknya.
19 Lalu mereka bertanya kepada kedua orang tuanya, “Orang ini anakmu— bukan! Apakah dia benar-benar buta sejak lahir? Kalau begitu, bagaimana caranya sehingga dia bisa melihat?”
20 Orang tua itu menjawab, “Benar dia ini anak kami. Dia benar-benar buta sejak lahir.
21 Tetapi kami tidak tahu bagaimana caranya sehingga dia bisa melihat, dan kami tidak mengenal orang yang membuat matanya bisa melihat. Silakan Bapak-bapak bertanya kepadanya. Dia sudah dewasa, dan dia sendiri bisa menjawabnya.”
22 Ibu dan bapaknya berkata begitu kepada orang-orang Farisi itu karena mereka takut kena hukuman— yaitu mereka bisa dilarang masuk ke dalam setiap rumah pertemuan orang Yahudi. Karena sebelumnya, para pemimpin orang Yahudi sudah bersepakat bahwa siapa yang mengaku Yesus adalah Kristus dilarang masuk ke dalam setiap rumah pertemuan.* 
23 Oleh karena itulah orang tuanya itu berkata, “Silakan Bapak-bapak bertanya kepadanya. Dia sudah dewasa, dan dia sendiri bisa menjawabnya.”
24 Jadi, untuk kedua kalinya orang-orang Farisi itu memanggil orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya, “Bersumpahlah di hadapan Allah bahwa kamu akan mengatakan yang benar kepada kami! Karena kami tahu Yesus itu orang berdosa.”
25 Lalu dia menjawab, “Dia orang berdosa atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu ini saja: Dulu saya buta, tetapi sekarang saya sudah bisa melihat!”
26 Lalu mereka bertanya, “Apa yang dia perbuat terhadap kamu? Bagaimana dia membuat matamu bisa melihat?”
27 Dan dia menjawab, “Baru saja saya jelaskan kepada kalian, tetapi kalian tidak memperhatikannya. Kenapa kalian mau mendengarkannya lagi?! Jangan-jangan kalian juga mau menjadi pengikutnya!”
28 Lalu mereka menghina dia dengan berkata, “Kamulah pengikut orang berdosa itu— bukan kami! Kami adalah pengikut Musa.
29 Kami tahu bahwa Allah sudah berbicara kepada Musa. Tetapi kami tidak tahu apa-apa tentang orang itu!”
30 Lalu orang yang tadinya buta itu berkata kepada mereka, “Wah, ini aneh sekali! Kalian berkata bahwa kalian tidak tahu apa-apa tentang Yesus, padahal dia sudah membuat mata saya bisa melihat.
31 Karena kita tahu bahwa Allah tidak mungkin mendengar permohonan orang berdosa. Tetapi Dia mendengar setiap orang yang menghormati-Nya dan yang melakukan kehendak-Nya.
32 Dari sejak dunia ada sampai sekarang, belum pernah kita dengar tentang orang yang sanggup membuat mata orang yang buta sejak lahir bisa melihat.
33 Kalau orang itu tidak diutus oleh Allah, tidak mungkin dia melakukan keajaiban seperti ini!”
34 Lalu mereka berkata kepadanya, “Saat kamu dilahirkan kamu sudah penuh dengan dosa. Karena itulah kamu buta! Dan sekarang kamu menganggap dirimu pantas untuk mengajar kami— begitu?!” Dan sejak saat itu, dia dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan mana pun.

Jangan sampai mata hati kita menjadi buta

35 Pada waktu Yesus mendengar bahwa mantan orang buta itu dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan mana pun, Yesus mencari dia, dan ketika bertemu Yesus bertanya, “Apakah kamu percaya kepada Anak Manusia?”
36 Lalu orang itu menjawab, “Bapa, siapakah Dia? Katakanlah kepada saya supaya saya percaya kepada-Nya!”
37 Lalu Yesus berkata, “Kamu sudah melihat Dia. Sebenarnya Anak Manusia itu adalah Aku— yang sudah diutus oleh Allah ke dalam dunia ini dan sekarang sedang berbicara dengan kamu.”
38 Orang itu menjawab, “Saya percaya, Tuhan!” Lalu dia sujud menyembah-Nya.
39 Lalu Yesus berkata, “Aku datang ke dunia ini untuk membuat pemisahan di antara manusia: Orang yang buta akan melihat, dan orang yang menganggap dirinya bisa melihat akan menjadi buta.”
40 Ada beberapa anggota dari kelompok Farisi di situ yang mendengar perkataan Yesus itu. Mereka berkata kepada-Nya, “Jadi maksudmu, kami ini buta— begitu?!”
41 Jawab Yesus, “Kalau kalian masing-masing mengaku kamu buta, berarti saat ini kamu tidak melakukan dosa. Tetapi karena kamu masih tetap berkata bahwa kamu bisa melihat, itu berarti kamu terus memelihara dosamu.”

Polemik adalah diskusi atau perdebatan sengit di tempat umum atau media massa. Polemik digunakan untuk menyangkal atau mendukung pandangan agama atau politik. Polemik berawal dari sesuatu yang berpeluang untuk diperdebatkan. Latar belakang polemikus relatif heterogen saat menanggapi permasalahan. Polemik bo­leh terjadi asal bijak saat menanggapinya. Untuk itu, kita harus fokus pada masalah, bukan pribadi; bahasanya santun dan mudah dimengerti; pengendalian diri harus diperhatikan saat berdebat; wawasannya harus terbuka saat menerima masukan.

Namun, hal itu tidak terjadi dalam perikop hari ini. Polemik bermula saat para tetangga terkejut melihat orang yang buta sejak lahir sudah melek. Barangkali, polemik ini biasa karena keterkejutan. Namun, setelah ia diperhadapkan pada orang Farisi, polemiknya menjadi tak mutu dan tidak membangun. Polemiknya terkait dengan isu agama: Pertama, mereka memandang Yesus bahwa Dia bukan berasal dari Allah. Dia tidak memelihara Sabat. Dia orang berdosa tetapi bisa membuat mukjizat. Kedua, ketika ditanya orang Yahudi, orangtua si buta takut dikucilkan kalau mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias sehingga mempersilakan mereka untuk menanyai anaknya. Ketiga, si buta berpendapat bahwa Yesus adalah nabi. Ketika mereka menilai bahwa ia seolah-olah meng­ gurui ketika berkata, “Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa”, ia diusir. Bermula dari kesembuhan seseorang, akhir kisah tidak berujung kesaksian tetapi perbantahan.

Jadi, lebih baik ketika mukjizat terjadi, biarkan kesaksian diutamakan demi kemuliaan Tuhan. Untuk hal ini kita harus berani. Kemudian, mendekatlah kepada-Nya, agar ajaran-Nya semakin diresapi.

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset November 2017

Catatan Kaki:
* 9:22 rumah pertemuan orang Yahudi Lihat catatan di Yoh. 6:59. Seorang yang dilarang masuk ke dalam rumah pertemuan juga dijauhkan oleh semua orang.

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu