Roma 12:1-2— Dua ayat dengan arti yang dalam

Penulis: Phil Fields

Walaupun Roma pasal 12, ayat 1-2 sering dihafal di Indonesia, sering juga salah ditafsirkan. Arti yang dimengerti oleh kebanyakan pembaca di Indonesia tidak sama dengan arti yang diterima pada zaman Paulus oleh para pembaca pertama, maupun yang diterima zaman ini oleh para pembaca terjemahan bahasa Inggris. Dan hal ini tidak mengherankan, karena kedua ayat tersebut tidak gampang untuk diterjemahkan. Mari kita menggali harta karun dalam kedua ayat ini!

Bahasa Yunani (teks Byzantium):
1 Παρακαλῶ οὖν ὑμᾶς, ἀδελφοί, διὰ τῶν οἰκτιρμῶν τοῦ ϑεοῦ, παραστῆσαι τὰ σώματα ὑμῶν ϑυσίαν ζῶσαν, ἁγίαν, εὐάρεστον τῷ ϑεῷ, τὴν λογικὴν λατρείαν ὑμῶν,
2 καὶ μὴ συσχηματίζεσθαι τῷ αἰῶνι τούτῳ, ἀλλὰ μεταμορφοῦσθαι τῇ ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς ὑμῶν, εἰς τὸ δοκιμάζειν ὑμᾶς τί τὸ ϑέλημα τοῦ ϑεοῦ τὸ ἀγαθὸν καὶ εὐάρεστον καὶ τέλειον.

Kitab Suci Injil (KSI):
1 Sebab itu, hai Saudara-saudaraku, demi rahmat Allah, aku meminta supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai kurban yang hidup, yang suci, dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah yang sesungguhnya.
2 Jangan hidup seperti orang-orang zaman sekarang ini, melainkan berubahlah berdasarkan pembaruan pikiranmu. Dengan demikian, kamu dapat mengetahui dengan pasti manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna.

TB:
2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dengan berkata Παρακαλῶ οὖν ὑμᾶς, ἀδελφοί, secara harfiah Paulus berkata “Aku mendorong/mengajak (parakalo) oleh karena itu (oun) kalian (hymas), Saudara-saudara (adelfoi).” Sangat jelas dari kata ‘mendorong’ bahwa Paulus sudah memasuki bagian suratnya yang bicara tentang cara hidup yang pantas bagi orang-orang yang percaya semua pelajaran dalam pasal 1-11. Tetapi ternyata kata penghubung ‘oleh karena itu (oun)’ tidak merujuk kepada ajaran pada akhir pasal 11. Bahkan ‘oun’ tidak merujuk kepada ajaran dalam pasal 9-11, karena topik yang menjadi dasar dorongan berikut harus cocok disebut ‘rahmat (KSI)/kemurahan (TB)’ (oiktirmon). Roma pasal 9-11 mendiskusikan topik sampingan. Tetapi memulai di pasal 12, Paulus kembali kepada pokok pembicaraan yang utamanya, yang sudah berpuncak di pasal 8.

Dalam bahasa Inggris kita bisa menerjemahkan secara harfiah, “I urge you, therefore, brothers (adelfoi)…” Dengan menyebut para pembaca/perdengar sebagai ‘Saudara-saudara (laki-laki)’, Paulus mengikuti kebiasaan Yahudi pada zamannya. Semua pengajaran di Sinagoge Yahudi selalu ditujukan kepada kaum laki-laki, sesuai apa yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul. Begitu juga dalam pertemuan para jemaat pertama. Para perempuan zaman itu pasti tidak tersinggung, karena mengerti bahwa kata ‘adelfoi’ meliputi seluruh jemaat.

Alasan untuk ‘dorongan’ Paulus menurut kedua terjemahan tersebut adalah ‘rahmat/kemurahan Allah’, tetapi kata oiktirmon adalah jamak. Beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris menerjemahkan ‘by the mercies of God’. (Mercies adalah jamak. Bentuk tunggalnya, mercy.) Bentuk jamak kata tersebut menunjukkan kepada kita bahwa pokok pembicaraan tersebut dari pasal 1-8 menunjukkan berbagai caranya Allah berbaik hati kepada kita. Saya tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan tentang “berbagai caranya” itu. Tetapi biarlah saya memberi tantangan ini: Saudara akan mendapat harta rohani kalau meneliti setiap cara Allah berbaik hati kepada kita yang dicantumkan dalam pasal 1 sampai dengan 8.

Tentang παραστῆσαι τὰ σώματα ὑμῶν ϑυσίαν ζῶσαν “mempertaruhkan tubuhmu (setiap pribadi masing-masing) sebagai kurban (yang) hidup,” saya setuju dengan terjemahan ‘mempersembahkan’, yang menggabungkan kata parastesai dan thysian (mempertaruhkan dan kurban). Perhatikan bahwa kata parastesai sedikit berbeda dari ‘menyerahkan diri’. Kalau ‘menyerahkan diri’, terjadi kesan bahwa kita tidak mau melakukan apa yang dianjurkan. Arti disini tidak begitu! Ini adalah sesuatu yang kita merasa ‘masuk akal’ (logiken) melakukan karena hati kita digerakkan oleh “berbagai caranya Allah berbaik hati kepada kita.” Tetapi bagaimana caranya kita akan mempersembahkan tubuh kita? Mohon tunggu, untuk jawaban pertanyaan itu!

Melewati beberapa kata untuk sementara, kita perlu diskusi arti logikèn latreian, yang KSI menerjemahkan dengan “(Itulah) ibadah (yang) sesungguhnya/(TB sejati).” Kedua kata ini bisa berarti ‘penyembahan rohani (spiritual worship)’, dan arti ini mendekati yang kita lihat dalam KSI dan TB. Tetapi lebih banyak terjemahan dalam bahasa Inggris dan lebih banyak penafsir memilih arti lain— yaitu ‘pengabdian (latreian) yang masuk akal/pantas (logikèn). Dengan kata lain, berdasarkan berbagai caranya Allah sudah berbaik hati kepada kita, maka sudah sepantasnyalah kita membalas kebaikan hati-Nya!

Kita melewati perintah negatif yang Paulus memberikan pada permulaan ayat 2, supaya kita berfokus kepada frasa yang biasanya salah ditanggapi— yaitu ἀλλὰ μεταμορφοῦσθαι τῇ ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς ὑμῶν. TB menerjemahkan “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dalam presentasi yang sering saya bagikan ke mana-mana, saya selalu bertanya, “Budi berarti apa?” Biasanya peserta presentasi segan memberi arti, tetapi akhirnya kita mendapat defenisi ‘kebaikan’. Lalu saya bertanya, “Siapa yang bertanggungjawab untuk laksanakan ‘berubahlah oleh pembaharuan kebaikanmu’?” Selalu saya mendapat jawaban, “Kita bertanggungjawab melakukan hal itu.” Tetapi itu salah! Mohon setiap orang yang mempunyai Alkitab TB menulis ‘akal’ sebelum ‘budi’! KSI lebih tepat dengan menerjemahkan “berubahlah berdasarkan pembaruan pikiranmu (noòs, bahasa Inggrisnya, mind).”

Daripada ‘berubahlah’, bahasa Yunani berbicara tentang suatu transformasi (metamorfousthai). Frasa tersebut dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan dengan “be transformed by the renewing of your mind.” Nah, apakah Saudara pembaca pernah berusaha memperbarui pikiranmu?! Pasti gagal! Kita mampu mengubah suatu pendapat yang terbukti salah. Kita juga mampu berubah ‘budi’ kita di mata umum. Tetapi Saudara maupun saya tidak mampu dengan kekuatan kisa sendiri untuk mentransformasikan pikiran kita— sampai kita menjadi seperti orang baru. Hanya Allah mampu melakukan proses transformasi ini! Kita semua perlu mengalami kelahiran baru. Contohnya, metamophosis (dalam bahasa Inggis) adalah proses transformasi yang terjadi ketika seekor ulat menjadi kupu-kupu.

Tetapi apa peran kita dalam metamophosis ini?— sehingga Paulus bisa meyuruh kita untuk ‘be transformed’? NLT menerjemahkan dengan tepat dan sangat sederhana: “let God transform you into a new person by changing the way you think.” Inilah rahasia yang saya mau bagikan dengan Saudara: Syarat untuk kita memulai proses pembaharuan dari Allah adalah bahwa kita mengambil keputusan seperti ini dan berdoa, “Ya TUHAN, aku mempersembahkan tubuhku sebagai kurban bagi-Mu!” Dengan kata lain, kita menganggap diri kita seperti sudah mati, karena disalibkan bersama dengan Penyelamat kita— biarpun kita masih hidup. Mengambil keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang gampang. Silakan merenungkan hal ini dan membaca Kolose pasal 2-3 dan Efesus 2. Berdoalah agar mendapat hikmat untuk mendalami konsep kurban persembahan tubuh ini. Ingatlah, binatang yang menjadi kurban harus mati. Semakin kita bisa menghayati konsep bersatu dengan Kristus/Al-Masih dalam kematian-Nya, semakin hati kita disiapkan untuk transformasi yang hanya Allah mampu melakukan!

Segala hal yang sudah diskusikan di atas bisa dilihat dalam Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI):

Roma 12:1-2 (TSI versi 2.3): Paulus berkata,
Berdasarkan semua yang sudah saya katakan sebelumnya tentang berbagai cara Allah berbaik hati kepada kita, maka sudah sepantasnyalah kita membalas kebaikan hati-Nya! Janganlah kita mengikuti lagi cara hidup yang tidak baik yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang duniawi. Tetapi hendaklah setiap kita mengambil keputusan seperti ini, “Ya TUHAN, aku mempersembahkan tubuhku sebagai kurban bagi-Mu!”— walaupun sebenarnya kita masih hidup. Keputusan yang seperti itu merupakan persembahan yang suci dan menyenangkan hati TUHAN. Dengan demikian Dia akan memperbarui pikiran kita— sehingga kita bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya bagi kita dan apa yang terbaik dalam setiap keadaan. Maksud saya, kita bisa mengerti dan memilih apa yang baik dan yang paling tepat bagi kita, serta apa yang menyenangkan hati TUHAN.

Sekarang saya mau menjelaskan beberapa hal penting tentang TSI dan dua terjemahan lain yang dikutip dalam artikel ini: Janganlah menganggap saya berkata bahwa TSI adalah benar dan kedua terjemahan lain itu salah. Sama sekali tidak! KSI dan TB adalah terjemahan secara harfiah, sedangkan TSI adalah terjemahan berdasarkan arti. Terjemahan harfiah seperti KSI dan TB berguna karena mencerminkan bentuk dari bahasa sumber Alkitab secara kata demi kata. Tetapi terjemahan seperti itu tidak mungkin menunjukkan arti dengan jelas dan wajar dalam bahasa Indonesia. Jadi, kedua jenis terjemahan itu saling melengkapi, dan setiap orang percaya yang mau belajar Firman TUHAN secara mendalam sebaiknya menggunakan dua-duanya.

  • Perhatikan bahwa terjemahan berdasarkan arti sering menggunakan lebih banyak kata. Dalam permulaan ayat ini, TSI menggunakan banyak kata supaya hubungan perikop ini dengan ‘segala sesuatu’ yang dikatakan ‘sebelumnya’ lebih jelas, dan untuk menunjukkan bahwa oiktirmon (rahmat/mercies) merujuk kepada sesuatu yang jamak.
  • Dalam bahasa sumber dan terjemahan secara harfiah tidak terdapat kutipan dalam ayat 2. TSI menggunakan kutipan supaya caranya kita ‘mempersembahkan tubuh’ kita dapat dimengerti oleh pembaca. Kita tidak menggunakan pisau fisik untuk mematikan kurban tersebut! Pisau rohani yang digunakan adalah keputusan yang sungguh-sungguh. Ide atau keputusan sering diungkapkan dengan menggunakan kutipan dalam bahasa Indonesia sehari-hari.
  • Dan hal berikut tidak sering dibuat dalam TSI, tetapi dilakukan dalam Roma 12:1-2: Dua ayat dikombinasikan supaya beberapa frasa bisa dipindahkan. Susunan frasa diubah supaya hubungan logis dalam bahasa Indonesia menjadi lebih nyata. Urutan dalam bahasa Yunani dicerminkan dalam terjemahan KSI:

1 Sebab itu, hai Saudara-saudaraku, demi rahmat Allah,
2 aku meminta supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai kurban yang hidup, yang suci, dan yang berkenan kepada Allah.
3 Itulah ibadah yang sesungguhnya.
4 Jangan hidup seperti orang-orang zaman sekarang ini,
5 melainkan berubahlah berdasarkan pembaruan pikiranmu. Dengan demikian, kamu dapat mengetahui dengan pasti manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna.

Urutan dalam TSI menjadi 1, 3, 4, 2, 5.

Mungkin akan ada pembaca yang belum bersedia membuat keputusan tersebut,  “Ya TUHAN, aku mempersembahkan tubuhku sebagai kurban bagi-Mu!” Tetapi janji TUHAN yang besar terdapat dalam ayat ini! Kalau kita melakuhan syarat yang Paulus memberikan, sebagai akibat dari pikiran yang ditransformasikan, “kita bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita dan apa yang terbaik dalam setiap keadaan.” Janji itu begitu luar biasa sehingga Paulus menulanginya dengan kata lain, “Kita bisa mengerti dan memilih apa yang baik dan yang paling tepat bagi kita, serta apa yang menyenangkan hati TUHAN.”

Jadi saya bertanya kepadamu: Apakah Saudara sungguh-sungguh rindu mengetahui kehendak Allah bagimu?

Catatan:

  • Ternyata banyak kali ‘berubahlah oleh pembaharuan budimu’ ditafsirkan salah ketika Roma 12:1-2 dikhobahkan. Tetapi yang biasanya diajarkan sebenarnya tidak berlawanan dengan Firman TUHAN, karena terdapat ayat lain yang bisa mendukung ajaran ‘berubahlah budimu’:

2 Korintus 7:1 KSI
1 Karena kita telah memperoleh janji-janji itu, hai Saudara-saudara yang kukasihi, marilah kita menyucikan diri kita dari segala hal yang dapat menajiskan tubuh maupun ruh, sambil menyempurnakan kesucian kita dalam ketakwaan kepada Allah.

2 Korintus 7:1 TSI
1 Saudara-saudari saya yang terkasih, oleh karena Allah sudah memberikan janji-janji yang sungguh manis, maka sudah sepantasnyalah kita berusaha menjaga tubuh dan roh kita supaya bersih dari semua hal yang najis. Takut dan hormatlah kepada Allah! Oleh karena itu marilah kita semakin disempurnakan menjadi semakin seperti serupa Allah dalam kekudusan-Nya.

 

Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.

Keluarga Pak Phil pada peresmian PB bahasa Orya pada tahun 2005.

Phil Fields datang ke Indonesia dengan istrinya (Gale) dan ketiga anak mereka (David, Rachel, dan Hannah) pada bulan Oktober tahun 1983. Proyek terjemahan mereka yang pertama adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Orya. Suku Orya terdiri dari sekitar 2000 penduduk yang tinggal di daerah berbukit-bukit yang luas—  memulai dari dekat tempat transmigrasi Bonggo dan sampai Taja dan Wamho.

Hobby Pak Phil adalah main musik dengan Irish flute, penny whistle, clarinet, dan saxophone. Situs lain yang dimilikinya termasuk clarinetpages.net dan dailybiblereading.info.

Posted in Artikel Alkitabiah.

warpok