Saling Memperhatikan

Bacaan 1 Yohanes 3:11-18
Perjanjian Baru Terjemahan Sederhana Indonesia (PB-TSI)

Hendaklah kita saling mengasihi

11 Inilah berita yang sudah kalian dengar dari sejak semula: Hendaklah kita saling mengasihi. 12 Janganlah kita seperti Kain, yang menjadi anak iblis dan membunuh adiknya. Lalu kenapa dia membunuh adiknya? Karena Kain melakukan yang jahat, sedangkan adiknya melakukan yang benar.
13 Saudara-saudari, janganlah kita heran waktu orang-orang di dunia ini membenci kita.
14 Kita tidak termasuk lagi kepada orang-orang yang hidupnya mati secara rohani* tetapi termasuk kepada orang-orang yang sudah dihidupkan secara rohani. Kita bisa mengetahui hal itu karena kita mengasihi saudara-saudari kita. Kalau kita tidak mengasihi saudara kita, berarti hidup kita masih tetap mati secara rohani.
15 Siapa yang membenci saudaranya sebenarnya adalah pembunuh. Dan tentu kita tahu bahwa pembunuh belum dihidupkan secara rohani, dan oleh karena itu dia tidak memiliki hidup yang selama-lamanya.
16 Dengan cara inilah kita mengenal arti kasih: Kristus mengasihi kita sampai mengurbankan diri-Nya demi kita. Jadi kita pun hendaklah rela berkurban demi saudara-saudari kita.
17 Kalau ada seseorang di antara kita yang mempunyai harta duniawi yang berkecukupan dan melihat saudaranya menderita kekurangan, tetapi dia menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, berarti kelahiran dari Allah yang memampukan kita untuk mengasihi sesama tidak ada di dalam hati orang itu.
18 Jadi anak-anak saya yang saya kasihi, janganlah dengan mulut saja kita mengaku bahwa kita mengasihi sesama kita, tetapi hendaklah kita sungguh-sungguh mengasihi sesama kita dengan perbuatan yang nyata.

Suatu ketika, tante saya mengalami sakit yang cukup berat. Dia merasa stres karena jauh dari anak-anaknya yang tinggal di Belanda., sementara ia sendiri tinggal di Indonesia. Awalnya, anak-anaknya hanya dapat saya hubungi lewat Facebook, tetapi begitu mengetahui ibu­nya sakit berat, anak-anak dari tante saya terlihat lebih aktif berkomunikasi dengan mama mereka. Upaya saya “menyambungkan” keluarga ini lewat video-call
menggunakan WhatsApp pun akhirnya berbuah manis. Komunikasi kembali tersambung dan tante saya kembali berbahagia dan raut mukanya tampak lebih segar.

Dunia yang kita tinggali sekarang menuntut banyak perhatian. Kemajuan teknologi pun seakan mendukung keadaan tersebut, sekalipun terkadang yang terjadi sebaliknya. Seseorang bisa lebih sering menghabiskan waktu dengan orang yang belum pernah dikenalnya atau ditemuinya secara langsung, tetapi mengabaikan orang-orang yang ada di dekatnya. Sebagai orang percaya, hendaknya kita dapat memaksimalkan semua “sumber daya” di sekitar kita sebagai sarana untuk berbagi kasih dengan orang lain. Kasih yang terwujud dalam tindakan nyata, bukan hanya perkataan atau “isi status” dan komentar yang bertebaran di media sosial kita.

Mari kita jaga kasih dan kepedulian kita kepada sesama. Jangan menunggu kaya atau merasa sudah punya waktu, baru kita memberi perhatian karena mungkin sudah terlambat. Memberi perhatian pada orangtua, kakak-adik, keluarga, atau sahabat merupakan bukti kasih kita kepada-Nya. Jika hari ini kita diingatkan pada keluarga atau sahabat yang mungkin cukup lama kita abaikan, sapalah mereka, tanyakan kabarnya, dan ucapkanlah perkataan yang menyejukkan. Selamat mempraktikkan!

Dikutip dan disadur dari renungan Andi Offset Oktober 2017

Catatan Kaki:
*3:14 Ef. 2:1-3; Kol. 2:13-14

 

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu