Sang Anak Adam

Salah satu berkat besar yang terjadi ketika tim bekerja merevisi PB TSI adalah ketika menemukan arti dari gelar “Anak Manusia”. Selama ini makna dari gelar Yesus itu masih kabur. Namun ketika tim memeriksa sampai ke PL, ditemukanlah bahwa istilah ini bisa dihubungkan kepada nubuatan yang diungkapkan dalam Kej. 3:15.

Selama Yesus tinggal di dunia, Dia sering menyebut diri-Nya sebagai ‘Anak Manusia’. 

Apakah arti Anak Manusia? 

Sekarang tim penerjemah Albata mengajukan terjemahan yang baru untuk gelar-Nya itu, yaitu ‘Sang Anak Adam’. Untuk memahami gelar Yesus ini, mari kita melihatnya dari latar belakang Perjanjian Lama.

Dalam kitab Yehezkiel, mulai dari pasal 2:1, terdapat 93 kali Allah menyapa Yehezkiel sebagai ‘Anak Adam’. Sapaan itu dalam bahasa Ibrani adalah ‘BEN ADAM’. ‘Ben’ artinya ‘anak’, dan ‘adam’ bisa berarti ‘manusia’ (tunggal; lihat Kej. 3:20), atau nama pribadi Adam sendiri. Oleh karena bahasa Ibrani tidak membedakan huruf besar/kecil, maka sebutan ‘BEN ADAM’ bisa diartikan sebagai ‘keturunan Adam’ atau ‘keturunan (seorang) manusia’. Dalam konteks Allah memanggil Yehezkiel ‘Anak Adam’, arti dari panggilan tersebut adalah ‘manusia fana’. Dan seperti Yehezkiel, kita semua sebagai manusia yang fana dan lemah juga bisa disebut ‘anak Adam’.

Tetapi sebutan ‘Anak Adam’ menjadi sangat berbeda artinya ketika digunakan dalam nubuatan Daniel tentang Mesias di pasal 7:13. Daniel melihat “seseorang seperti manusia biasa (secara harfiah: ‘seperti anak Adam’) yang turun di antara awan-awan dari surga.” Selanjutnya, ayat 14 mengatakan,

“Dia diberi kekuasaan, kemuliaan, dan sebuah kerajaan di mana setiap suku, bangsa, dan bahasa harus melayani-Nya. Kerajaan-Nya tidak akan pernah berakhir dan kekuasaan-Nya kekal.” 

Waktu Yesus menyebut diri-Nya sebagai ‘(Sang) Anak Adam’, Dia merujuk kepada nubuatan Daniel tersebut. Dengan tambahan kata ‘Sang’, TSI menunjukkan bahwa Yesus bukan ‘anak Adam’ biasa, melainkan Raja di atas segala Raja yang dilihat oleh Daniel, yakni ‘seseorang’ yang akan datang di antara awan dan memerintah selama-lamanya.  

Gelar Yesus sebagai Sang Anak Adam juga merujuk kepada nubuatan pertama tentang keselamatan, yang tertulis di Kejadian 3:15. Dalam hukuman kepada si ular, Allah berkata,

“Aku akan membuat kamu dan perempuan ini saling bermusuhan.
Keturunanmu dan keturunan perempuan ini akan selalu bermusuhan.
Kamu akan menggigit tumit keturunannya (tunggal) yang laki-laki,
tetapi dia akan menghancurkan kepalamu.” (TSI)

Dengan cara yang luar biasa ini Allah menunjukkan bahwa kelak akan muncul Seorang laki-laki Keturunan Hawa dan dialah yang akan mengalahkan iblis.

Dalam kebudayaan Yahudi, keturunan Hawa lebih sering disebut dengan nama ayahnya, bukan nama ibu. Itulah sebabnya sesudah peristiwa di Kejadian 3 identitas Keturunan Hawa itu disebut dengan nama ayahnya, yakni ‘Anak Adam’.

Tentunya nubuatan pertama itulah yang mendorong Rasul Paulus untuk membandingkan Adam dengan Sang Anak Adam di Roma 5:12-21 dan 1Korintus 15:22, 45. 1Korintus 15:45 berkata, 

“Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, ‘Manusia yang pertama, yaitu Adam, menjadi makhluk yang hidup.’ Tetapi ada Orang yang seperti Adam terakhir, yaitu Kristus Yesus, dan Dialah Roh yang memberi hidup.”

 Sejarah penerjemahan ‘BEN ADAM’ sebagai ‘anak manusia (tunggal)’ berawal dari Septuaginta (200-300 SM), yang menerjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani klasik sebagai  υιέ ανθρώπου (transliterasi: uie anthropou, Yeh. 2:1). Ayat yang utama untuk identitas gelar itu adalah Daniel 7:13. Karena Daniel menulis ayat itu menggunakan bahasa Aram, bentuk harfiah tidak lagi BEN ADAM. Tetapi walaupun demikian, dalam Septuaginta Daniel 7:13 masih menerjemahkan ‘seperti anak manusia’ (transliterasi: hos uios anthropou). Di Daniel 8:17 yang di tulis dalam bahasa Ibrani, Daniel (seperti Yehezkiel) disapa oleh malaikat Gabriel sebagai BEN ADAM, dan Septuaginta masih menerjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai ‘Anak manusia’. Oleh karena itu, muncullah pertanyaan: Ketika Yesus mengucapkan gelar-Nya itu, Dia menggunakan bahasa mana?— Ibrani, Yunani, atau Aram.
Berdasarkan beberapa kutipan Yesus, ternyata Dia sering menggunakan bahasa Aram, yang serumpun dengan bahasa Ibrani dan digunakan sebagai bahasa sehari-hari pada waktu itu. Tetapi Yesus pasti berbahasa Ibrani dan Yunani juga. Bisa saja Yesus mengutip ayat Perjanjian Lama dari Septuaginta, seperti sering terlihat di surat-surat Perjanjian Baru. Kita menemukan jalan buntu di situ, karena kita tidak tahu Yesus menggunakan bahasa apa ketika mengucapkan gelar-Nya, dan apakah Dia mengatakan ‘Anak Adam’ atau ‘Anak Manusia’. 

Oleh karena kita menemukan jalan buntu ketika menggali bahasa sumber yang digunakan untuk mengucapkan gelar Yesus tersebut, lebih baik kita memikirkan cara yang terbaik untuk menyampaikan artinya kepada pembaca Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI). Kendala menerjemahkan kata anthropou sebagai ‘manusia’ adalah pembaca sering berasumsi bahwa kata ‘manusia’ berarti jamak. Namun, kalau kita menerjemahkannya sebagai ‘Keturunan Seorang Manusia’, situasi menjadi semakin kabur dan pasti menghasilkan salah tafsir. Kita sudah tahu bahwa terjemahan ‘Anak Manusia’ sering disalah tafsir sebagai Yesus merendahkan diri-Nya, seolah-olah berkata, “Aku manusia biasa saja.”

Berdasarkan semua penjelasan di atas, sekarang kita mengerti bahwa ketika Yesus menggunakan gelar itu Dia sedang menyatakan diri-Nya sebagai Raja Penyelamat yang dinubuatkan. Hal itu terbukti dari konteks di mana Yesus memakai gelar-Nya itu:

      • Ketika Yesus menunjukkan hak-Nya sebagai Mesias dan Raja untuk memberi keputusan di dunia ini (Mat. 9:6; 12:8, 32; 13:37; 16:13).
      • Ketika berbicara tentang kedudukan Yesus yang hina di dunia ini dan pengurbanan diri-Nya sebagai Mesias (Mat. 8:20; 11:19; 12:40; 17:9, 12, 22; 20:18; 20:28; 26:2, 24, 45).
      • Ketika berbicara tentang kedatangan-Nya kembali yang penuh kemuliaan dan perbuatan-Nya yang perkasa kelak sebagai Mesias (Mat. 10:23; 13:41; 16:27-28; 19:28; 24:27, 30, 37, 39, 44; 25:31; 26:64).

Harapan baik ketika menerjemahkan gelar Yesus sebagai Sang Anak Adam adalah para pembaca bisa menyadari kemuliaan Yesus yang dimaksudkan dalam gelar-Nya itu. Namun, sebenarnya ada kekurangan juga dalam terjemahan gelar Yesus yang dipakai TSI, yaitu bahwa terjemahan menjadi lebih jelas daripada teks bahasa sumbernya. Hal itu disebabkan karena penggunaan huruf besar, pemakaian kata ‘Sang’, dan catatan-catatan kaki yang menolong para pembaca modern. Sedangkan dari Yohanes 12:34 kita tahu bahwa sebagian pendengar Yesus zaman dahulu tidak mengerti waktu Dia menyebut diri-Nya Anak Adam. Dalam hal ini, penggunaan gelar Sang Anak Adam dapat disamakan dengan perumpamaan-perumpamaan Yesus. Maksudnya, bagi orang-orang yang berusaha mengerti dan merenungkan ajaran Yesus, Allah akan menambah kemampuannya untuk mengerti. Tetapi bagi para pendengar yang tidak berusaha, Allah mencabut kemampuan untuk mengerti itu (Mat. 13:10-17). Kini, setelah kita mulai memahami makna Sang Anak Adam, kita bertanggung jawab untuk merenungkannya dan hidup dengan cara yang pantas sebagai para penyembah-Nya.