Status perlunya terjemahan Alkitab di seluruh Indonesia

Silakan membaca halaman pertama di sini
sambil menunggu untuk file PDF muncul di bawah.

Saya ingin membagi tentang status keperluan terjemahan-terjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Dan untuk melakukan itu saya perlu menjelaskan tentang perbedaan pandangan antara orang-orang dari negara-negara barat dan orang Indonesia  tentang penggunaan bahasa-bahasa suku/daerah. Dalam artikel ini saya akan berbicara dengan cara yang sangat umum, dan harus diakui bahwa semua orang barat tidak sama dalam hal yang saya akan katakan. Jadi, waktu saya katakan sesuatu tentang ‘orang barat’, mari kita pikir tentang kebanyakan masyarakat Amerika Serikat saja dan bukan pendatang dari negara-negara lain. Demikian juga, dalam informasi yang saya berikan tentang suku-suku di Indonesia, saya berbicara secara umum.

Perbedaan pandangan orang Amerika tentang bahasa harus dimulai dari sifat mereka yang hanya memiliki satu bahasa, yaitu bahasa Inggris. Memang, di kota kecil saya, ada kelompok-kelompok orang yang berbicara dengan bahasa Spanyol. Saya sering bertemu dengan mereka, dan sering mendapati bahwa mereka belum begitu fasih kalau berbicara dengan saya dalam bahasa Inggris. Sudah jelas bahwa bahasa yang mereka kuasai adalah bahasa Spanyol, sedangkan bahasa Inggris mereka hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, dan tidak pernah digunakan untuk hal-hal rohani. Saya dengan malu harus mengakui bahwa saya belum belajar lebih dari 12 kata dalam bahasa Spanyol.

Berdasarkan keadaan itu, ada dua sebutan bahasa Inggris yang ingin saya perkenalkan kepada pembaca, yaitu mother tongue dan language of the heart. Mother tongue, kalau diterjemahkan secara harfiah adalah ‘lidah/bahasa ibu’. Maksudnya adalah bahasa yang dipelajari sejak kecil dari ibu. (Mohon perhatikan bahwa maksud mother tongue di sini bukan sifat khusus dalam pengucapan atau berbagai sifat bahasa yang ibu miliki, tetapi fokus pada bahasa yang dipelajari sejak kecil dari ibu.) Mother tongue saya memang bahasa Inggris. Dan bahasa tetangga saya bernama Pedro (seorang pendatang dari Honduras) yang dia pelajari dari ibunya adalah bahasa Spanyol. 

Konsep mother tongue memimpin kepada konsep yang berdekatan dengannya, yaitu heart language, atau dapat disebut ‘bahasa hati’. Tetapi dengan istilah itu, artinya bukan suara hati. Itu lain. (Conscience, dalam bahasa Inggris.) Artinya heart language adalah bahasa yang paling menyentuh hati. Untuk saya, bahasa Spanyol tidak pernah akan menjadi bahasa yang menyentuh hati saya. Dan begitu juga untuk Pedro, bahasa yang menyentuh hatinya pasti bahasa Spanyol. Asumsi orang-orang barat pada umumnya, bahasa hati seseorang selalu tunggal. 

Situasi dalam Indonesia pada umumnya zaman ini adalah yang disebut dengan multilingualism, yaitu kebudayaan yang memakai multi-bahasa. Kemungkinan besar, ibu Anda memiliki lebih dari satu bahasa, seperti bahasa Indonesia baku, bahasa/logat gaul, dan bahasa suku. Jadi dari kecil, Saudara memiliki dua, tiga, atau lebih mother tongue. Karena itu, kemungkinan besar Saudara memiliki beberapa bahasa yang dapat menyentuh hati. You have more than one heart language! (Saudara memiliki lebih dari satu bahasa hati.) Inilah hal yang kebanyakan tidak disadari oleh orang barat!

Perbedaan pandangan ini sangat signifikan, karena mempengaruhi tanggapan tentang statistik-statistik tentang keperluan penerjemahan di Indonesia. Mari saya tunjukkan kata pengantar dari situs salah satu organisasi yang mensponsori proyek-proyek penerjemahan Alkitab di Indonesia, Malaysia, dan Filipina:

Scroll to top