Tak Selamanya Diam Itu Emas

Bacaan Mazmur 39:1-10
Perjanjian Lama Bahasa Indonesia Masa Kini (PL-BIMK)

Pengakuan orang yang sedang menderita
1 Untuk pemimpin kor. Mazmur Daud. Untuk Yedutun. ( 39 – 2 ) Pikirku, “Aku mau menjaga diri supaya tidak berdosa dengan lidahku. Aku tak mau berbicara selama orang jahat masih dekat. “
2 ( 39 – 3 ) Aku diam seribu bahasa, sehingga merugikan diriku sendiri. Dan penderitaanku terasa semakin berat;
3 ( 39 – 4 ) aku dicekam kecemasan yang hebat. Makin dipikirkan, makin susah hatiku; akhirnya berkatalah aku,
4 ( 39 – 5 ) “TUHAN, beritahukanlah kapan ajalku supaya aku tahu betapa pendek hidupku. “
5 ( 39 – 6 ) Betapa singkat Kautentukan umurku ! Bagi-Mu jangka hidupku tidak berarti. Sungguh, manusia seperti hembusan napas saja,
6 ( 39 – 7 ) hidupnya berlalu seperti bayangan. Semua kesibukannya sia-sia belaka; ia menimbun harta, tapi tak tahu siapa akan memakainya.
7 ( 39 – 8 ) Sekarang apa yang kunantikan, ya TUHAN? Pada-Mulah harapanku.
8 ( 39 – 9 ) Lepaskanlah aku dari semua dosaku, jangan biarkan aku menjadi ejekan orang dungu.
9 ( 39 – 10 ) Aku diam dan tidak membuka mulutku, sebab Engkaulah yang menghajar aku.
10 ( 39 – 11 ) Ambillah hukuman-Mu daripadaku, sebab aku hampir mati karena pukulan-Mu.

Pepatah mengatakan, “Diam itu emas”. Memang harus diakui terkadang persoalan hidup yang berat membuat orang malas bicara dan ingin menyendiri. Bahkan, saat seperti itu berdiam diri, merenung dan introspeksi diri itu lebih baik. Meski demikian, tak semua masalah bisa terpecahkan dengan ‘diam’. Ada kalanya harus bicara dan kebenaran yang sesungguhnya diungkapkan.
Sesungguhnya, diam bukanlah satu-satunya solusi untuk keluar dari setiap masalah. Sering orang, yang terlihat
diam, ternyata hatinya bergejolak, bergemuruh seperti ombak laut yang diterpa angin.

Demikian juga pemazmur berkata, “Aku diam seribu bahasa….aku dicekam kecemasan yang hebat.”. Namun syukur, ternyata ia menemukan solusi tepat di tengah-tengah bergejolaknya hati. Ia berkomunikasi dengan Tuhan dan berkata-kata kepada-Nya. Ketika ia berkomunikasi dengan Tuhan, mata hatinya dibukakan. Ia disadarkan Tuhan akan beberapa hal: Pertama, hidup itu singkat atau pendek seperti beberapa telempap (ukuran sebesar telapak tangan) dan cepat berlalu seperti bayangan yang
berlalu. Kedua, sumber pengharapan satu-satunya yang bisa diandalkan adalah Dia. Ketiga, kekudusan menjadi sangat penting sehingga menjadi prioritas utama bagi Daud. Hal ini terlihat dari ungkapan doanya, “Lepaskanlah aku dari semua dosaku,”. Ia tidak berdoa “Lepaskan aku dari segala penderitaanku!”

Akhirnya, Daud bukan sekadar diam tetapi hatinya penuh dengan gejolak. Namun, setelah berkomunikasi dengan Tuhan, ia diam dan disertai percaya dan kete­ nangan yang sesungguhnya sehingga dapat berkata, “Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak”. Bagaimanakah dengan Anda saat ini? Apakah sudah seperti yang dicontohkan Daud? (TIT)

*Dikutip dari renungan Andi offset April 2017

Posted in Renungan TSI.

Jaya Waruwu