Teks sumber yang digunakan oleh Tim Penerjemah Albata

Dalam Perjanjian Baru dalam Terjemahan Sederhana Indonesia, dalam edisi 1 s/d 2.3, tim penerjemah Albata menggunakan teks UBS (United Bible Society) sebagai dasar penerjemahannya. Teks UBS juga disebut teks Nestle-Aland (NA). Golongan naskah kuno UBS lebih mengutamakan salinan-salinan terkuno yang ditulis pada papirus dan yang terdapat di kota Aleksandria atau tempat-tempat lain di Mesir. Setiap kali Tim Penerjemah Albata menemukan pertanyaan-pertanyaan textual, kami sering mengikuti keterangan dalam catatan kaki di New English Translation (NET). (Kebanyakan penerjemah NET adalah dosen atau tamatan dari Dallas Theological Seminary.)

Memulai bulan Agustus tahun 2018, dan untuk edisi 3 TSI dan seterusnya, Tim Penerjemah Albata akan menggunakan golongan teks Bizantium (BYZ). Alasan untuk keputusan ini adalah bahwa teks Bizantium terbukti tidak diubah-ubah dan stabil sejak zaman penulis pertama. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Artikel Alkitabiah ini: Teks PB Yunani yang Albata gunakan.

Untuk Perjanjian Lama TSI, sebenarnya hanya satu pilihan— yaitu Codex Lenningradensius, yang sering juga disebut Teks Masoretik (MT). Kumpulan teks bahasa Ibrani ini mempunyai variasi yang terlihat dalam aparatus di bagian bawah halaman. Kalau ada pertanyaan-pertanyaan tentang hal kecil seperti dalam aparatus, tim penerjemah Albata juga mengevaluasikan hal-hal itu dengan melihat catatan-catatan di NET.

Teks Septuaginta (LXX) adalah terjemahan dari PL ke dalam bahasa Yunani Klasik yang dilakukan oleh 70 ahli taurat 300 tahun s/d 132 tahun sebelum kelahiran Kristus. Septuaginta mempunyai peran penting dalam penerjemahan PL dan PB— baik dalam TSI maupun di hampir semua terjemahan Alkitab lainnya. Peran penting Septuaginta terletak terutama pada  kutipan-kutipan dari PL yang dikutip oleh para penulis PB. Hampir semua kutipan-kutipan tersebut diambil dari Septuaginta, bukan dari MT. Selain itu, karena di dalam PL terdapat kata-kata dalam teks aslinya yang artinya tidak dapat dipastikan, maka dalam situasi seperti itu, para penerjemah Alkitab zaman sekarang sering berpendapat bahwa para penerjemah Septuaginta jauh lebih dekat dengan zaman PL dibanding kita, karena itu tafsiran yang terdapat dalam Septuaginta bisa menjadi acuan. Namun sekarang terbukti bahwa ada beberapa ayat di mana Septuaginta tidak menerjemahkan dengan tepat. Karena itu dalam semua kutipan dari PL— baik yang diambil oleh penulis dari Septuaginta maupun yang diterjemahkan oleh penulis sendiri dari bahasa Ibraninya, TSI dan hampir semua terjemahan Alkitab yang lain menerjemahkan bagian itu sesuai dengan yang tertulis dalam teks Yunani PB. Contohnya, Ibrani 1:7 adalah kutipan dari Mzm. 104:4. Tetapi karena penulis Ibrani mengutip dari Septuaginta, maka terdapat beberapa kata yang artinya berbeda dari bahasa Ibraninya. TSI dan hampir semua terjemahan Alkitab menerjemahkan ayat ini sesuai dengan yang ditulis oleh penulis pertama dalam bahasa Yunani, dan tidak sesuai bahasa Ibrani untuk ayat Mazmur tersebut. Kalau ada ayat seperti itu, TSI selalu menambah catatan kaki yang menyertakan penerjemahan dari bahasa Ibraninya.

Peran Septuaginta dalam penulisan PB merupakan hal yang sangat menarik. Dengan digunakannya Septuaginta sebagai bahan acuan untuk mengutip PL oleh para penulsi PB, yang tentunya atas pengilhaman Roh Kudus, membuktikan bahwa ternyata Roh Kudus itu sendiri menganggap terjemahan Septuaginta sebagai Firman TUHAN! Artinya, terjemahan dari teks sumber PL ke dalam bahasa lain (bahasa Yunani) dianggap Firman TUHAN, dan kita perlu mempercayai hal itu di dalam PB. Hal ini juga membuktikan kepada kita bahwa Alkitab boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana pun, supaya para pembaca zaman sekarang dapat mengerti Firman Allah. Dan terjemahan itu— asal dilakukan dengan benar dan tepat, juga akan dianggap Firman TUHAN. Kita juga bisa melihat dalam Septuaginta bahwa ke-70 penerjemahnya sering menerjemahkan secara harfiah. Tetapi di mana terjemahan harfiah terlihat sulit dimengerti atau dapat disalah artikan, maka mereka menerjemahkan dengan lebih bebas dan berdasarkan arti. Jadi Septuaginta menjadi bukti bahwa TUHAN mau supaya Firman-Nya bisa dimengerti dan boleh diterjemahkan, dan para penerjemah tidak selalu harus menerjemahkannya secara harfiah, tetapi juga dengan cara berdasarkan arti.